SARI PENELITIAN PEMBELAJARAN 2006 (2)

a4 kclSARI PENELITIAN

Kode : PTK.2006.06
Peneliti/Penulis : Suriana Gende1), Muhammad Ali 2), Ruwiah Pua2)
Institusi : 1) Jurusan Biologi, Fakultas Pendidikan MIPA,
Universitas Haluoleo, 2) SMP Negeri 2 Kendari.
Judul : Meningkatkan Pemahaman Konsep
Perkembangbiakan Tumbuhan Mata Pelajaran
Sains-Biologi melalui Metode Galeri Belajar

Bidang Ilmu : Pendidikan Biologi
Bidang Kajian : Metode Pembelajaran Biologi
Kata Kunci : pemahaman konsep, galeri belajar,
perkembangbiakan tumbuhanTahun Laporan : 2005

Konsep perkembangbiakan tumbuhan dalam mata pelajaran Biologi merupakan dasar yang harus dikuasai oleh siswa. Namun dalam kenyataannya, banyak sekali ditemukan permasalahan dalam pembelajaran Biologi, seperti kurang aktifnya siswa dalam kegiatan belajar-mengajar, jarangnya siswa mengajukan pertanyaan dan gagasan, atau jarangnya siswa memberi respon dan gagasan bila menemukan hal yang baru. Masalah ini berdampak pada kurang termotivasinya siswa dalam mengikuti pelajaran Biologi. Sebagai akibatnya siswa di SMP Negeri 2 Kendari banyak menemukan masalah dalam memahami konsep-konsep dalam Biologi. Masalah yang paling banyak ditemukan sehubungan dengan konsep biologi adalah sulitnya siswa dalam memahami konsep perkembangbiakan tumbuhan. Berdasarkan hasil diskusi dengan guru pengajar dan wawancara dengan siswa, masalah tersebut disebahkan oleh rendahnya kemampuan siswa dan rnasih kurangnya Guru melatihkan keterampilan berbicara seperti mengajukan pertanyaan, menaggapi pertanyaan, serta memberi pendapat atas basil karya orang lain selama kegiatan belajar-mengajar.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru dan doses bersama-sama mencari jalan untuk memecahkan masalah tersebut, yaitu melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan mencobakan Metode Galeri Belajar dalam pembelajaran Biologi. Metode ini merupakan metode pembelajaran yang di dalamnya berisi aktivitas menilai dan mengomentari apa yang telah di pelajari oleh siswa setelah mengikuti serangkaian proses pelajaran. Metode ini melibatkan aktivitas siswa secara emosional untuk menemukan pengetahuan baru, serta sating mengoreksi pengetahuan yang telah diperoleh dalam kelompok maupun antar kelompok siswa. Prosedur pelaksanaan metode ini dalam pembelajaran adalah: 1) mengelompokkan siswa menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari 2-4 orang; 2) meminta setiap kelompok mendiskusikan apa yang telah dipelajari:3) meminta siswa membuat daftar tentang pengetahuan baru yang diperoleh teman dari kelompok lain; 4) meminta siswa mendiskusikan kembali dan membuat daftar pertanyaan mengenai pengetahuan yang diperoleh kelompok lain; 5) meminta siswa untuk mempresentasikan simpulan hasil kegiatan pembelajaran.

Penggunaan metode galeri belajar ini berdampak positif pada interaksi dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Berdasarkan aktivitas yang dilakukan siswa, metode ini dapat meningkatkan kemampuan dan aktifitas siswa dalam menemukan informasi, mengajukan pertanyaan, merancang dan melakukan percobaan, menginterpretasi data, merumuskan simpulan, menemukan keunggulan hasil karya kelompok lain dan melakukan refleksi guna kesempurnaan konsep. Berdasarkan aktivitas penilaian diri siswa dalam kerja kelompok, metode ini dapat meningkatkan partisipasi, interaksi, kemampuan mengamati hasil karya, dan kemampuan merumuskan simpulan. Meningkatnya ke dua kemampuan siswa tersebut, dibarengi dengan kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep dalam pelajaran Biologi terutama dalam memahami konsep perkembanganbiakan tumbuhan, karena selama beraktivitas dalam kelompok, siswa secara langsung diberi kesempatan untuk memahami dan mampu menjelaskan konsep tersebut kepada temannya.

Selain dampak tersebut di atas, penerapan metode Galeri Belajar ini dalam pembelajaran Biologi, berimplikasi pula pada kemampuan guru dalam memberikan bimbingan personal dalam kelompok yang ternyata sangat memotivasi siswa untuk mempelajari Biologi. Disamping itu, kegiatan ini berdampak pula pada kemampuan siswa untuk berpikir kritis. Metode ini sangat direkomendasikan dilakukan oleh Guru dan dosen yang memiliki permasalahan yang sama dan jumlah siswa dalam satu kelas tidak terlalu banyak.

Implikasi

Dalam pembelajaran Biologi, siswa kurang aktif mengajukan pertanyaan dan gagasan dan jarang memberi respon dan gagasan bila menemukan hal yang baru. Metode Galeri Belajar mampu meningkatkan partisipasi dan interaksi belajar siswa. Bagi kelas yang pasif, metode ini diterapkan dalam belajar kelompok sehingga setiap siswa mampu mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat. Penerapan Metode Galeri Belajar dalam Pembelajaran Biologi, guru sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut yaitu: (l) peran aktif guru dalam membuat desain percobaan secara terperinci, (2) keterlibatan siswa dalam merancang persiapan percobaan Biologi yang akan dilaksanakan, (3) refleksi keberhasilan dan kegagalan percobaan yang telah dilakukan sangat balk untuk dijadikan acuan dalam merancang percobaan-percobaan selanjutnya, dan (4) guru mampu memberikan bimbingan baik personal maupun bimbingan

SARI PENELITIAN

Kode : PTK.2006.07
Peneliti/Penulis : Mohammad Efendi1), Esni Triaswati2), Puji Hariyanto2)
Institusi : 1) Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Malang, 2) SLB Bagian B YPTB Malang
Judul : Penggunaan Media Ceritera Bergambar Berbasis Pendekatan
Komunikasi Total Untuk Meningkatkan Kemampuan Bahasa
Anak Tunarungu Kelas Rendah Di SLB Bagian B YPTB Malang
Tabun Laporan : 2006
Bidang Ilmu : Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Bidang Kajian : Teknologi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus
Kata Kunci : media bergambar, komunikasi total, kemampuan bahasa,
tunarungu

Keterbatasan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi anak tunarungu secara empirik mereka tampak seperti anak bodoh, acuh tak acuh, tidak komunikatif, dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungannya. Atas dasar itulah idealnya sejak dini anak tuna rungu masuk sekolah, sebagian besar waktu belajarnya diarahkan dan digunakan untuk mengembangkan kemampuan bahasa dan komunikasinya. Menyadari berbagai keterbatasan yang kelak dihadapi, khususnya tunarungu yang diderita sejak lahir, maka penetelaksanaan dalam pendidikan dan habilitasinya perlu dipersiapakan sejak dini. Apapun upaya yang digunakanuntuk mengembangkan kemampuan anak tunarungu, pada hakekatnya porsi terbesar tetap bersandar pada optimalisasi fungsi aspek visualnya, karena itu indera penglihatan hagi anak tunarungu selain berfungsi sebagai persepsi visual (fungsi primer), juga berfungsi sebagai persepsi auditif (sekunder). Berangkat dari pemikiran tersebut, penggunaan media gambar yang dikombinasi multikomunikasi (komunikasi total) dalam pembelajaran bahasa anak tunarungu berpeluang memberikan hasil balk, sebab kemampuan anak tunarungu untuk memahami informasi dari lingkungannya sebagian besar mengandalkan kemampuan indera penglihatan, serta sesuai dengan dunianya.

Upaya untuk mengoptimalkan kemampuan bahasa anak tuna rungu, peneliti bersama guru SLB bagian B YPTB Malang mencoba strategi pembelajaran yang memanfatkan media cerita bergambar berbasis dan pendekatan komunikai total melalui tindakan Penelitian Tindakan Kelas. Untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran ini, ada beberapa tahap yang direncanakan dalam skenario pembelajaran antara lain : (1) orientasi Kahan yaitu guru menjelaskan terra dan cakupan materi yang ada didalamnya, (2) pemunculan gagasan yaitu siswa dimotifasi untuk mengapersepsi atau mendemonstrasikan uraian materi yang terdapat pada bacaan, (3) pengungkapan gagasan yaitu siswa dimotifasi untuk mendiskusikan atau menanggapi uraian materi yang diperagakan atau didemonstrasikan, (4) pemantapan gagasan yaitu guru memberikan koreksi terhadap peragaan/tanggapan siswa, (5) penerapan gagasan yaitu siswa mengerjakan soal-soal atau tugas yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan analisis data hasil penelitian, menunjukkan bahwa uraian materi pernbelajaran yang didukung dengan ilustrasi atau gambar yang relevan sangat membantu anak tunarungu dalam meningkatkan kemampuan bahasa, terutama memahami kosa kata yang terdapat materi yang diajarkan. Namun demikian, detail-detail yang mencirikan bentuk benda atau peristiwa secara jelas yang diilustrasikan dalam gambar bagi anak tunarungu belum cukup, jika tanpa diberiwarna sesuai dengan karateristik obyek aslinya (minimal mendekati). Hal ini untuk menghindari keraguan anak dalam menginterpretasi. Secara keseluruhan basil ujicoba pembelajaran ini memang belum menunjukkan hasil yang maksimal, sebab masih ada beberapa siswa yang masih sulit dioptimalisasikan potensinya karena terkendala faktor internalnya, seperti kecerdasan rendah, tingkat ketunarunguan yang berat, motif berprestasi dan minat belajar rendah. Demikian juga kurangnya support orang tua bisa jadi akan menjadi persoalan tersendiri bagi siswa untuk meningkatkan kemampuannya, Atas dasar itulah sebagus apapun media, program, keterampilan guru sebagai instrumen pernbelajaran, jika tanpa didukung kondisi internal siswa sebagai raw input dan kondisi eksternal dari keluarga dan masyarakat sebagai environmental input, maka hash baik yang diharapkan sulit terwujud.

Penggunaan media dalam pembelajaran ternyata mampu meningkatkan ghairah belajar siswa, sebab melalui media yang digunakan perhatian siswa tergiring pada fakta yang ditampilkan dalam media tersebut. Siswa dapat mengembangkan pemehaman terhadap makna yang dikemas dalam media, dengan cara mengasosiasikan antar bagian yang ditampilkan dalam gambar dan paparan yang menyertainya. Dapaknya siswa tidak hanya sekedar mengerti dan memahami secara verbal apa yang dipelajari, akan tetapi mereka juga memiliki wawasan secara faktual setiap aspek dari materi yang dipelajari.

IMPLIKASI

Berdasarkan basil ujicoba prototipe media ceritera bergambar dalam upaya meningkatkan kemamupuan bahasa anak tuna rungu dikelas rendah telah menuai basil yang positif. Oleh karena itu, implemantasi prototipe media ceritera bergambar selanjutnya, handaknya memprhatikan kaidah-kaidah berikut : (1) Gambar-gambar yang dipresentasikan dalam bahan bacaan diupayakan mampu menggugah emosi siswa, sehingga makin dekat dengan pengalaman pribadi anak makin besar tingkat keterlibatan emosi anak yang larut dalam gambar peristiwa tersebut, (2) Uraian materi pembelajaran yang disajikan atau yang menyertai pemuatan gambar bacaan diupayakan mampu meningkatkan perhatian dan keseriusan anak dalam belajar,oleh karena itu format uraiannya dibuat singkat, padat, lugas, serta sesuai dengan karakteristik gaya bahasa anak tunarungu.

SARI PENELITIAN

Kode : PTK.2006. PTK.08
Peneliti/Penulis : Bustanul Arifin 1), Jamal 2), Riyono 2)
Institusi : 1) Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas
Negeri Malang, 2) Madrasah Aliyah Negeri Malang 1
Judul : Pengefektifan Pembelajaran Menulis Cerpen melalui
Pemanfaatan Pertanyaan “Bagaimana Jika…” pada Siswa
Kelas X MAN Malang 1
Tahun Laporan : 2006
Bidang Ilmu : Pendidikan Bahasa Indonesia
Bidang Kajian : Strategi Pembelajaran Sastra
Kata Kunci : pembelajaran, menulis cerpen, pertanyaan ”bagaimana
jika…?”

Diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan hal yang sangat menggembirakan bagi pelajaran menulis karena menulis mendapatkan porsi yang seimbang dengan empat kemampuan berbahasa yang lainnya, tak terkecuali pelajaran menulis berbagai bentuk sastra melalui menulis puisi dan cerpen. Namun, kegembiraan itu diikuti oleh semacam kebingungan tertentu bagi sebagian besar guru di sekolah pada saat pembelajaran menulis cerpen. Kebingungan itu tampak karena (1) pembelajaran sastra oleh sebagian guru masih berorientasi pada pengetahuan tentang karya sastra, (2) sebagian guru tidak/belum bisa menulis cerpen, dan (3) sebagian guru tidak/belum mengetahui bagaimana strategi mengajarkan menulis cerpen. Dalam penelitian ini peneliti bersama guru pengajar mencari bentuk pembelajaran menulis cerpen yang tidak ’menyiksa’, tidak ‘membebani’, yang menyenangkan, yang dapat dinikmati siswa maupun guru, yang dapat memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa dan bersastra, yaitu pembelajaran menulis cerpen melalui pemanfaatan pertanyaan ‘bagaimana jika …’. Pembelajaran ini diawali dengan pembacaan naskah cerita secara kreatif atau pemutaran film yang berisi cerita rakyat kemudian siswa diminta menuliskan kreasinya, gagasan barunya berdasarkan bingkai cerita yang didengar dari pembacaan atau yang dilihatnya dari film itu dengan menjawab pertanyaan “bagaimana jika peristiwanya tidak begitu …”, “bagaimana jika Anda yang menjadi tokoh itu …”, “bagaimana jika peristiwanya terjadi di tempat lain …”, “bagaimana jika peristiwa itu diceritakan oleh saksi mata …”. Jika peristiwanya dibuat tidak seperti aslinya, maka akan muncul cerita baru yang kreatif dari siswa.

Penelitian ini mengandung tindakan yaitu meningkatkan kualitas pembelajaran menulis cerpen melalui pemanfaatan pertanyaan ”bagaimana jika …”. Kegiatan pelaksanaan penelitian meliputi tahap pelaksanaan tindakan dan tahap refleksi. Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan dalam siklus-siklus: siklus 1 dan siklus 2. Setiap siklus dimulai dengan memperdengarkan/memperlihatkan cerita rakyat. Fokus tindakan pada setiap siklus berupa pemanfaatan cerita rakyat untuk menulis cerpen. Tindakan siklus 1 dikatakan berhasil apabila siswa telah mampu mengembangkan gagasan kreatifnya menjadi sebuah cerita yang didukung oleh karakter tokoh dan seting cerita yang sesuai, mampu mengisahkan cerita dari sudut pandang yang sesuai, dan mampu menutup cerita dengan penutupan yang mengait pada awal. Akan tetapi jika ternyata masih ditemui hambatan, maka disusun rencana tindakan siklus 2 (replanning). Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan catatan lapangan, perekaman, wawancara, dan penugasan yang menghasilkan produk berupa cerpen. Langkah penelitian tiap siklus adalah sebagai berikut:
Guru menyiapkan naskah/CD berisi cerita rakyat dan memperdengarkannya kepada siswa selama 10 menit. Kemudian guru menghentikan cerita tersebut ditengah jalan dan selanjutnya meminta siswa mengarang cerita baru dari peristiwa yang didengarkan. Ide cerita dikembangkan berdasarkan pertanyaan „Bagaimana Jika ……“

Pemanfaatan pertanyaan “Bagaimana jika …” ini terbukti efektif bagi pembelajaran menulis cerpen karena pertanyaan dapat (1) menimbulkan inspirasi, (2) mengingatkan kembali pengalaman yang lampau, (3) imajinasi berkembang, (4) membuat siswa merasa lebih rilaks, (5) memberikan gambaran suasana, sehingga (6) mempermudah menulis cerpen. Indikasi efektivitas pembelajaran menulis cerpen dengan mamanfaatkan pertanyaan “Bagaimana jika …” dapat dilihat dari lima aspek yang mengalami perkembangan yang signifikan. Kelima aspek itu adalah (1) pengembangan ide cerita yang makin kaya, (2) eksploitasi karakter tokoh secara mendalam hingga menggerakkan cerita, (3) Pengembangan seting cerita yang mempengaruhi perwatakan tokoh hingga terjalin cerita yang logis, (4) pemilihan sudut pendang penceritaan yang mengena, dan (5) pembukaan dan penutupan cerita yang menarik minat untuk membaca sampai tuntas. Efektivitas pembelajaran menulis cerpen dapat dilihat dari (1) tingkat produktifitas, (2) tingkat kualitas produk, dan (3) tingkat keberagaman dengan cerita pada film atau cerita yang diperdengarkan selama proses kreatif penciptaan.

Selain dampak tersebut di atas, penerapan strategi pembelajaran menulis cerpen dengan pertanyan “Bagaimana jika…?“dengan dua kali tindakan menunjukkan peningkatan secara kualitatif dan siswa sudah bisa menulis cerpen dengan lancar dan imajinatif. Selain itu penelitian ini memberika sumbangan secara teoritis, yaitu berupa konsep teoritis tentang pemanfaatan pertanyaan “Bagaimana jika …?” dalam pembelajaran menulis cerpen di sekolah. Untuk memantapkan teori tentang pemanfaatan pertanyaan “Bagaimana jika …” diperlukan penelitian lanjutan. Strategi pembelajaran ini direkomendasikan untuk guru SMP/MTs dan SD/MI agar menumbuhkembangkan kemampuan siswa menulis cerpen.

SARI PENELITIAN

Kode : PTK.2006.09
Peneliti : Aan Kusdiana1), Enuh Zainuddin1), Tatang S.2), Farid Arif2),
Sumartini2)
Institusi : 1) Universitas Pendidikan Indonesia, 2) SDN Linggasari 1
Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis
Judul : Dramatisasi Cerita Bergambar untuk Mengembangkan
Kompetensi Dasar Berekspresi Sastra Di Sekolah Dasar
Tahun laporan : 2007
Bidang Ilmu : Bahasa dan Sastra Indonesia
Bidang Kajian : Kompetensi Ekspresi Sastra
Kata Kunci : dramatisasi, cerita bergambar, kompetensi dasar, ekspresi
sastra

Pembelajaran Bahasa Indonesia saat ini masih berkonsentrasi pada pengetahuan kognitif saja. Kemamapuan afektif dan psikomotor dalam bentuk apresiasi dan kemampuan berekspresi masih sangat jarang disentuh, padahal kemampuan mengapresiasi dan berekspresi sangat baik diberikan kepada siswa sejak dini. Dampak dari pembelajaran seperti ini adalah rendahnya Kompetensi Dasar Berekspresi Sastra di Sekolah Dasar terutama di kelas III Sekolah Dasar Negeri Linggasari 1 Kecamatan Ciamis Kabupaten Ciamis. Masalah yang paling banyak ditemukan sehubungan dengan peningkatan kompetensi dasar berekspresi sastra adalah kurang berimbangnya porsi pembelajaran sastra dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Di samping itu kemampuan guru untuk membuat perencanaan pembelajaran sastra yang terintegrasi dengan pembelajaran bahasa Indonesia juga masih rendah.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru, dan dosen secara kolaboratif melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan Dramatisasi Cerita Bergambar untuk Mengembangkan Kompetensi Dasar Berekspresi Sastra Di kelas III Sekolah Dasar. Dramatisasi Cerita bergambar ini mengikuti langkah-langkah : persiapan, dan pelaksanaan pembelajaran. Hal-hal yang harus dipersiapkan dalam melakukan teknik ini adalah sebagai berikut : (1) menyiapkan wawasan dan kemampuan guru untuk melakukan pembelajaran dramatisasi cerita bergambar; (2) pemilihan bahan ajar berupa cerita bergambar dari majalah, koran, atau buku perpustakaan yang disesuaikan dengan minat, perhatian, kebutuhan, dan kemampuan membaca siswa kelas III Sekolah Dasar; (3) bahan ajar terpilih digandakan sesuai kebutuhan dan bila perlu diperbesar sesuai dengan kemampuan baca siswa; (4) memahami kompetensi dasar yang akan dikembangkan dan menyusun skenario pembelajaran; (5) menyediakan alat peraga atau perlengkapan yang dibutuhkan dalam pelaksanakan pembelajaran. Setelah segala persiapan selesai, langkah- langkah yang harus dilakukan di dalam kelas adalah sebagai berikut : 1) guru membagikan bahan ajar berupa teks cerita bergambar kepada masing-masin siswa dan mengarahkan siswa untuk membaca dalam hati teks cerita bergambar dan menekankan kepada pemahaman isi ceritanya; 2) Guru membantu pemahaman siswa melalui membaca nyaring cerita bergambar secara perlahan disertai ekspresi mimik dan gerak tubuh setelah siswa selesai membaca; 3) Guru melakukan tanya jawab untuk melihat pemahaman siswa terhadap isi cerita; 4) Guru mengarahkan dan membimbing siswa mempersiapkan kegiatan dramatisasi cerita secara berkelompok, khususnya kegiatan untuk masing-masing siswa dalam memerankan tokoh cerita; 5) Guru mengatur giliran penampilan dramatisasi cerita untuk masing masing kelompok siswa dan jika memungkinkan diambil fotonya sebagai dokumen dan bahan pembahasan; 7)Guru menilai dan membahas hasil penampilan dramatisasi cerita dari masing-masing kelompok, khususnya berkaitan dengan percakapan, perilaku tokoh, dan kreativitas penampilannya; 8) Guru memberi saran kepada seluruh siswa untuk penampilan dramatisasi cerita yang lebih baik pada kegiatan dramatisasi cerita berikutnya.

Hasil yang diperoleh dari penggunaan teknik ini dalam pembelajaran bahasa Indonesia adalah meningkatkannya kemampuan siswa berekspresi sastra. Hal ini, dapat dilihat dari perkembangan rata–rata nilai baik untuk aspek percakapan dan perilaku tokoh cerita yang telah dicapai siswa, yaitu dari 15% pada siklus ke-1, 38,44% pada siklus ke-2 dan menjadi 71,56% pada siklus ke 3. Demikian pula, bila dilihat dari rata – rata nilai kemampuan siswa pada aspek percakapan pembelajaran siklus ke-3, telah mencapai 76,25% atau melampaui target 75% siswa berkemampuan baik. Hanya, pada aspek perilaku tokoh cerita rata-rata nilai kemampuan siswa baru mencapai 66,87% siswa berkemampuan baik.

Selain dampak tersebut di atas, penerapan dramatisasi cerita bergambar ini mampu memberikan dampak pengiring pada permasalahan guru mengintegrasikan pembelajaran sastra dalam pembelajaran bahasa Indonesia, sehingga kecilnya porsi pembelajaran sastra yang sering dikeluhkan guru tidak lagi menjadi permasalahan. Dengan melakukan penelitian ini guru juga mampu membuat perencanaan yang lebih baik, dan melakukan variasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia serta mampu membuat suasana kelas menjadi meriah dan menyenangkan. Dengan teknik ini siswa merasa senang belajar sastra dan merasakan bahwa mereka belajar tanpa sadar. Oleh karena itu, sangat direkomendasikan kepada guru-guru sekolah dasar agar menggunakan teknik ini dalam pembelajaran sastra.

IMPLIKASI

Bila melihat hasil yang dicapai dari penggunaan dramatisasi cerita bergambar yang sangat bagus, banyak guru menyanggupi untuk melakukan teknik ini dalam pembelajaran bahasa Indonesia, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan teknik ini yaitu :
1. Guru hendaknya secara maksimal memberi motivasi dan arahan melalui pemberian contoh perilaku tokoh cerita sehingga setiap anak berani dan tidak malu-malu untuk tampil
2. Untuk itu guru juga hendaknya belajar dan mampu berekspresi sehingga mampu memberi contoh perilaku sesuai dengan tokoh-tokoh ceritanya.
3. Siswa perlu dilibatkan dalam mencari cerita-cerita yang akan didramatisasikan di kelas.

SARI PENELITIAN

Kode : PTK.2006.10
Peneliti : Sukayasa1), Winarko2) , Sarmila2)
Institusi : 1) Universitas Tadulako, 2) SD Karunadipa Palu
Judul : Penerapan Teori Bruner untuk Meningkatkan Pemahaman
Siswa SD Karunadipa Palu terhadap Konsep Keliling dan
Luas Daerah Bangun Datar
Tahun laporan : 2007
Bidang Ilmu : Pendidikan Matematika
Bidang Kajian : Pemahaman Matematika
Kata Kunci : teori Bruner, konsep keliling, luas bangun datar

Matematika adalah salah satu pengetahuan yang strukturnya bersifat hierarkis dan objek kajiannya bersifat abstrak, yang menyebabkan matematika sulit dipahami oleh siswa. Miskonsepsi yang terjadi pada tahap awal akan berdampak pada pemahaman konsep matematika pada jenjang pendidikan berikutnya. Oleh karena itu, bila seorang siswa lemah pemahamannya terhadap konsep matematika pada jenjang pendidikan sebelumnya, maka kemungkinan ia akan mengalami kesulitan untuk memahami konsep matematika yang sedang dipelajarinya. Hasil inteviu yang dilakukan dengan guru menunjukkan sulitnya guru menjelaskan konsep geometri dan sulitnya siswa sekolah dasar memahami konsep geometri tersebut, terutama dalam memahami konsep luas pada bangun bangun datar. Lemahnya pemahaman siswa terhadap konsep konsep geometri tersebut diduga karena pendekatan pembelajaran yang digunakan mungkin hanya menekankan “how to understand” geometri saja, tetapi belum sampai pada “how to do” geometri.

Untuk membantu guru mengatasi permasalahan tersebut, secara kolaboratif dengan dosen diadakanlah Penelitian Tindakan Kelas dengan menerapkan teori belajar Brunner sehingga pemahaman siswa dalam mempelajri konsep luas daerah bangun bangun datar dapat ditingkatkan. Ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam melaksanakan Teori belajar ini yaitu : tahap enaktif, tahap ikonik, dan tahap simbolik. Dalam tahap enaktif kegiatan yang dilakukan di kelas adalah : 1)Guru menunjukkan contoh benda-benda yang berbentuk persegi panjang seperti meja, papan tulis, buku dan lain lain;2) Guru menyiapkan beberapa bingkai berbentuk persegi panjang, dan persegi – persegi dari karton kemudian siswa diminta untuk memasukkan persegi persegi satuan itu pada bingkai persegi panjang yang telah dipersiapkan guru; 3) Guru mengajukan pertanyaan seperti banyak karton yang dimasukkan tepat pada bingkai persegi panjang, banyak baris persegi satuan pada bingkai persegi panjang, banyak kolom persegi satuan pada bingkai persegi panjang. Tahap ikonik dilaksanakan dengan langkah-langkah :1) Guru meminta siswa untuk menggambarkan bingkai persegi panjang lengkap dengan banyaknya persegi yang telah dilakukan pada tahap enaktif; 2) Selanjutnya guru juga meminta siswa menuliskan banyaknya baris dan kolom (jawaban pertanyaan pada tahap enaktif) pada gambar sisi sisi persegi panjang tersebut; 3)Selanjutnya guru menjelaskan bahwa banyaknya persegi satuan dalam bingkai persegi panjang tersebut ada hubungannya antara banyaknya persegi satuan pada baris dan kolom persegipanjang itu; 4)Guru juga meminta siswa untuk menghitung dan menuliskan banyaknya persegi satuan pada masing masing gambar; 5)Kemudian guru meminta siswa mendiskusikan hubungan antara banyaknya persegi satuan dalam gambar itu dengan banyaknya kolom dan baris pada masing masing gambar. Tahap simbolik dilakukan dengan langkap-langkah: 1) guru meminta siswa menuliskan hasil diskusi mereka; 2) Membimbing siswa untuk menemukan rumus luas daerah persegi panjang, yaitu bila pada suatu persegi panjang terdapat L satuan persegi dan p baris serta I kolom, dan selanjunya siswa diminta menuliskan hubungan antara p, I, dan L; 3) Bila siswa telah mampu menemukan rumus luas daerah persegi panjang, selanjutnya guru menjelaskan makna simbol pada rumus tersebut.

Hasil pelaksanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan teori Bruner ini menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap topik keliling dan luas daerah bangun datar (persegi panjang, persegi, dan segitiga) dapat ditingkatkan. Hal ini ditunjukkan dari adanya peningkatan kemampuan menggambar bangun datar sebesar 76 %, kemampuan menggunakan rumus (keliling dan luas) sebesar 71 %, dan kemampuan melakukan perhitungan meningkat sebesar 77% pada akhir siklus ke 4. Selain pemahaman tersebut, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dalam menerapkan strategi pembelajaran berdasarkan teori Bruner turut mempengaruhi pemahaman siswa terhadap konsep geometri yang sedang dipelajari.

Selain hasil di atas, penerapan teori Bruner juga memberi kontribusi pada kemampuan siswa merekonstruksi konsep yang telah divisualisasikan tersebut lewat simbol atau lambang yang dilakukan pada tahap simbolik, sehingga daya abstraksi siswa juga meningkat. Oleh karena itu, strategi pembelajaran yang dirancang berdasarkan teori Bruner untuk topik geometri khususnya tentang konsep keliling dan luas daerah bangun datar dapat dijadikan salah satu alternatif pembelajaran dalam mata pelajaran matematika.

IMPLIKASI

Berdasarkan dampak yang dihasilkan dari penggunaan Teori Bruner dalam merancang strategi pemelajaran matematika di SD, guru hendaknya selain memperhatikan kurikulum, juga harus memperhatikan taraf perkembangan intelektual siswa karena strategi pembelajaran yang dirancang sedemikian akan membantu meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep yang sedang dipelajarinya. Demikian halnya sajian bahan ajar selain sesuai dengan strategi yang dipilih, juga hendaknya relevan dengan taraf perkembangan intelektual siswa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: