PERSPEKTIF TENTANG BAIK DAN BURUK

s7300160-kclThe term of ‘good and bad” is the concept value to measure one activity of human being, when the activity is classified as bad or good. We often judge people bad or good from what they hav done. “Akhlaq” knowledge and moral philosophy have done studied in this matter “judging people deeds whether it is classified as good or bad”. The problem is good and bad is vey relative and the measure which is used is very from one people to another, from Akhlaq knowledge to philosophy. More over every people has their own measure in judging good and bad. This article will discuss about bad and good, the measure to judge bad and good, and how Islam sees bad and good.

Kata “baik” (Arab: khair; Inggris: good) dalam kamus Munjid (hal. 198), berarti sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan. Dalam Webster’s New Twentieth Century Dictionary, (hal. 789), “baik” berarti sesuatu yang menimbulkan rasa keharuan dalam kepuasan, kesenangan, persesuaian, dan seterusnya. Selanjutnya yang baik itu adalah sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan, yang memberikan kepuasan. (The Advanced leaner’s dictionary of Current English, hal. 430). Yang “baik” juga dapat berarti sesuatu yang sesuai dengan keinginan. (Webster’s World University Dictionary, hlm. 401). Dan yang disebut baik dapat pula dikatakan sesuatu yang mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang, atau bahagia. (Ensiklopedia Indonesia, Bagian I, hlm. 362). Apa pula uang berpendapat bahwa, yang dianggap baik atau kebaikan itu adalah sesuatu yang dinginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Tingkah laku manusia adalah baik, jika tingkah laku tersebut menuju kesempurnaan manusia. Kebaikan disebut nilai (value), apabila kebaikan itu bagi seseorang menjadi kebaikan yang konkret. (Zubair, 1990:81). Dari beberapa pengertian tentang “baik” tersebut menunjukkan bahwa yang disebut baik atau kebaikan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat, menyenangkan, dan disukai manusia. Definisi kebaikan tersebut terkesan anthropocentris, yakni memusat dan bertolak dari sesuatu yang menguntungkan dan membahagiakan manusia. Pengertian baik yang demikian tidak ada salahnya karena secara fitrah manusia memang menyukai hal-hal yang menyenangkan dan membahagiakan dirinya. Kesempurnaan, keharuan, kepuasan, kesenangan, kesesuaian, kebenaran, kesesuaian dengan keinginan, mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang dan bahagia dan yang sejalan dengan itu adalah merupakan sesuatu yang dicari dan diusahakan manusia. Karena semuanya itu dianggap sebagai yang baik atau mendatangkan kabaikan bagi dirinya. (Abuddin Nata, 1997:102-103). Mengetahui sesuatu yang baik sebagaimana disebutkan di atas akan mempermudah dalam mengetahui yang buruk. Dalam bahasa Arab, yang buruk itu dikenal dengan istilah syarr, yang berarti tidak baik, yang tidak seperti yang seharusnya, tak sempurna dalam kualitas, di bawah standar, kurang dalam nilai, tak mencukupi, keji, jahat, tidak bermoral, tidak menyenagkan, tidak dapat disetujui, tidak dapat diterima, sesuatu yang tercela, lawan dari baik, dan perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku. Dengan demikian yang dikatakan buruk itu adalah sesuatu yang dinilai sebaliknya dari yang baik, dan tidak disukai kehadirannya oleh manusia. (Nata, 1997:102). Sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia, berkembang pula patokan yang digunakan orang dalam menentukan baik dan buruk. Kebanyakan orang berselisih dalam pandangannya mengenai sesuatu; ada sekelompok masyarakat yang menilai sesuatu itu baik tetapi pada saat yang sama sekelompok masyarakat lainnya melihatnya buruk. Bahkan ada sekelompok masyarakat yang menganggap sesuatu itu baik dalam waktu ini, tetapi melihatnya buruk pada waktu yang lain. Maka dengan ukuran apakah sehingga dengan suatu pandangan kita bisa memberi hukum kepada sesuatu itu baik atau buruk? Untuk menjawab permasalahan ini kami kemukakan pandangan berbagai aliran pemikiran dalam menilai baik atau buruk yang terkenal dalam kalangan ilmuwan. Baik dan Buruk dalam Pandangan Berbagai Aliran 1. Aliran Naturalisme Aliran ini menganggap bahwa kebahagiaan manusia didapatkan dengan menurutkan panggilan natur (fitrah) dari kejadian manusia itu sendiri. Perbuatan yang baik (susila) menurut aliran ini ialah: perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan natur manusia, baik mengenai fitrah lahir maupun fitrah batin. Aliran ini berpandangan bahwa dalam dunia ini segala sesuatu menuju satu tujuan saja. Dengan memahami panggilan natur, akhirnya masing-masing mereka menuju ke kebahagiaannya yang sempurna. Benda dan tumbuh-tumbuhan menuju pada tujuan itu secara otomatis yakni tanpa pertimbangan atau perasaan. Kalau hewan-hewan menunuju tujuannya dengan instink (naluri)-nya, maka manusia menuju tujuannya dengan akalnya. Karena itu kewajiban manusia ialah mencapai kesanggupan akal yang stinggi-tingginya dan melakukan segala amal perbuatan dengan berpedoman pada akal. Alam telah memberikan pada manusia keinginan untuk hidup terus. Dan dengan dasar mengingini kelangsungan hidup itulah manusia membeda-bedakan beberapa macam pekerjaan, mana yang membahagiakan dan mana yang mengganggu kelangsungan hidup itu. Kebahagiaan manusia terletak pada tidak terganggunya kelangsungan hidup itu. Adanya ancaman terhadap kelangsungan hidup manusia merupakan halangan kebahagiaan manusia. Terganggunya kelangsungan hidup dan hilangnya kebahagiaan itu merupakan faktor yang saling berhubungan, seperti hubungan antara lahir dan batin pada diri manusia. Jadi hilangnya kebahagiaan berarti gangguan bagi keinginan berlangsungnya kehidupan. Karena itu pula banyak terjadi orang-orang yang tidak merasa berbahagia lalu mengambil keputusan untuk membunuh dirinya sendiri, menghabisi kelangsungan hidupnya. Ringkasnya aliran ini berpendapat bahwa kebahagiaan itu didapatkan ketika manusia melakukan hal yang cocok dengan naturnya dan melangsungkan kehidupannya. Salah satu contoh dari aliran naturalisme ialah aliran filsafat Stoa. Aliran Stoa menganggap bahwa manusia yang bijaksana ialah yang dapat merasakan bahwa dirinya adalah bagian dari alam fitrah (natur). Karena itu yang dinamakan kebijaksanaan dan kebaikan itu adalah penyesuaian seseorang kepada natur yang umum itu. Orang yang hanya menilai manfaat bagi dirinya sendiri atau mudharat bagi sepihak saja adalah bersusila rendah. Yang pokok menurut aliran Stoa ialah adanya kemauan yang baik untuk seluruh alam. Hanya saja karena bagi kaum Stoa semua alam itu adalah Tuhan juga, maka kaum Stoa selanjutnya mengatakan, seseorang yang bijaksana ialah seseorang yang insaf bahwa tiap-tiap sesuatu hal di alam ini terjadinya menurut akal umum yakni menurut kemauan Tuhan dan Qadar. Seperti ditulis Seneca, “ducunt volentem fata, nolentem trahunt: apabila engkau setuju, takdir membimbingmu; apabila tidak, takdir memaksa”. Ini menandaskan bahwa sesungguhnya, menurut aliran Stoa, manusia tidak dapat lepas dari takdir semesta. (Magnis-Suseno, 1997:57).

%d bloggers like this: